Mitos Palsu Tapi Dipercaya Terkait Inovasi Kereta Api: Bisa Bikin Rahim Lepas

Foto: Dok. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar

Hoaks sering kali muncul ketika suatu inovasi atau penemuan terjadi. Sebut saja ketika telepon pertama kali ditemukan, orang-orang dulu meyakini bahwa penemuan dari Alexander Graham Bell itu dapat mengirim roh jahat. Atau ketika kereta api ditemukan, orang-orang takut rahim bisa copot kalau berani menaikinya.

Ketika kereta api mulai beroperasi, orang-orang khawatir rahim perempuan akan keluar dari vagina mereka jika kendaraan tersebut melaju melebihi kecepatan tertentu. Meski kedengarannya aneh, ketakutan itu dapat dimengerti.

Selama berabad-abad, orang hanya dapat berharap untuk sampai dari Londinium ke Yerusalem dalam 53,5 hari. Sehingga, orang-orang khawatir tentang teknologi baru yang dapat membawa mereka melaju di atas tanah dengan kecepatan hingga 16 kilometer per jam.

"Kecepatan yang sangat besar penuh dengan bahaya bagi pernapasan, dan asam karbonat yang dihasilkan oleh bahan bakar saat melewati terowongan panjang pasti akan menyebabkan sesak napas karena 'kerusakan atmosfer'," begitu bunyi kekhawatiran yang sempat ditulis beberapa tahun kemudian di Lancet.

Antropolog budaya Genevieve Bell mengatakan kepada Wall Street Journal TECH bahwa orang-orang percaya bahwa jika kereta api melaju di atas 80 km/jam, ini dapat membuat rahim akan terlempar keluar dari tubuh mereka saat dipercepat hingga kecepatan tersebut.

IFLScience tidak dapat menemukan referensi tentang kecepatan spesifik yang disebutkan di atas, detikINET pun mencoba mencarinya tapi tidak ketemu.

Akan tetapi, tampaknya bahkan dokter pada masa itu memiliki kekhawatiran terkait tubuh perempuan (kemungkinan besar dipengaruhi oleh seksisme yang besar), termasuk gagasan bahwa rahimnya akan bergeser dan terlepas jika ia bepergian dengan kapal atau kereta api tepat sebelum menstruasinya.

"Jika seorang wanita berangkat untuk pelayaran laut atau perjalanan kereta api sehari sebelum menstruasinya seharusnya datang, ia kemungkinan besar akan melewatkan satu periode menstruasi, dan mungkin lebih. Atau, jika menstruasi datang, ia mungkin mengalami penderitaan yang lebih hebat dari biasanya. Jika terlalu sedikit, atau terlalu banyak, ia mungkin akan sakit parah. Sebagai konsekuensi tidak langsung, ia kemungkinan akan menderita beberapa bentuk fleksi atau dislokasi uterus," tulis seorang dokter di New England Medical Gazette.

Sumber: detik.com

Lebih baru Lebih lama