![]() |
| EKSTREM: Ilustrasi cuaca panas ekstrem di sejumlah wilayah Indonesia - Foto Dok Istimewa |
HABARMERDEKA.COM, JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap penyebab cuaca panas ekstrem yang belakangan dirasakan di sejumlah wilayah Indonesia. Kondisi hawa panas dan gerah ini dipicu kombinasi gerak semu matahari, minimnya tutupan awan, peralihan musim, hingga dampak pemanasan global.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan, posisi gerak semu matahari tahunan yang berada dekat ekuator atau wilayah selatan ekuator membuat intensitas pemanasan permukaan meningkat di sejumlah wilayah Indonesia. Kondisi tersebut diperparah dengan minimnya pembentukan awan, sehingga paparan sinar matahari langsung ke permukaan terasa lebih maksimal.
Menurut Ardhasena, wilayah Indonesia bagian selatan seperti Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB), Bali, dan Jawa Timur saat ini sedang memasuki masa peralihan dari musim hujan menuju musim kemarau.
"Fase ini ditandai dengan cuaca yang cenderung dinamis, di mana suhu terasa panas pada siang hari, namun masih berpotensi diguyur hujan lebat pada waktu tertentu," ujarnya.
Berdasarkan catatan BMKG sepanjang April 2026, sejumlah wilayah di Indonesia mencatat suhu maksimum harian di atas 35 derajat Celsius. Bahkan, suhu tertinggi tercatat mencapai 36,3 derajat Celsius.
Adapun lima wilayah dengan suhu tertinggi di Indonesia berdasarkan data BMKG yakni Balai Besar MKG Wilayah I Medan, Sumatera Utara 36,3 derajat Celsius, Balai Besar MKG Wilayah II Ciputat, Banten 36,0 derajat Celsius, Stamet Sanggu Barito Selatan, Kalimantan Tengah 36,0 derajat Celsius, Stamet Fatmawati Soekarno Bengkulu 35,8 derajat Celsius, serta Staklim Bengkulu 35,6 derajat Celsius.
BMKG memprediksi kondisi cuaca panas ini masih akan berlanjut sepanjang Mei 2026, terutama di wilayah selatan Indonesia seperti Jawa, Bali, NTB, dan NTT yang mulai memasuki musim kemarau. Pada periode ini, curah hujan diperkirakan semakin rendah sehingga pemanasan matahari berlangsung lebih maksimal.
Selain itu, BMKG memperkirakan musim kemarau 2026 akan cenderung lebih kering dibanding tahun sebelumnya. Akumulasi curah hujan selama musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi berada pada kategori bawah normal atau lebih kering dari biasanya.
BMKG juga memprediksi puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia akan terjadi pada Agustus 2026. Masyarakat diimbau menjaga kondisi tubuh, memperbanyak konsumsi air, serta mengurangi aktivitas berlebih di luar ruangan saat cuaca terik.
Sumber: Liputan6.com
