![]() |
| SOSOK: Ekonom Raden Pardede - Foto Dok Istimewa |
HABARMERDEKA.COM, JAKARTA – Ekonom Raden Pardede menilai keberadaan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) masih perlu diuji efektivitasnya, terutama terkait dampak ekonomi yang dihasilkan bagi masyarakat.
Sorotan tersebut muncul setelah beredarnya video pembukaan KDMP di berbagai daerah yang memperlihatkan produk-produk jualan koperasi serupa dengan minimarket, seperti makanan ringan, bahan pokok, hingga kebutuhan rumah tangga.
“Kita lihat saya lihat YouTube baru-baru ini grocery items-nya mirip-mirip juga dengan Alfamart, Indomaret, dan juga warung di sekitar. Apakah this is new investment, new activities, atau dia hanya menjadi trade off dari sini (minimarket) shifting ke sini (KDMP),” ujar Raden dalam acara Economic Forum 2026 di Kempinski, Jakarta, Selasa (19/5/2026).
Menurut dia, apabila KDMP hanya memindahkan konsumen dan tenaga kerja dari warung atau minimarket ke koperasi, maka dampak ekonomi bersih yang dihasilkan akan relatif kecil.
Raden menjelaskan, koperasi yang berhasil di negara lain umumnya berkembang secara bottom up atau tumbuh dari kebutuhan masyarakat. Ia mencontohkan Fonterra di Selandia Baru yang berkembang dari kelompok peternak susu hingga menjadi koperasi besar berskala internasional.
Sementara itu, KDMP dinilai lebih banyak menggunakan pendekatan top down karena pemerintah terlibat mulai dari pembentukan program, penyediaan pendanaan, hingga dukungan kredit.
“If there is the case, impact dari KDMP itu akan kecil. Karena dia hanya shifting dari warung atau Indomaret, Alfamart ke sini. Pekerjanya juga akan shifting juga nanti,” katanya.
Meski demikian, Raden menegaskan penilaian terhadap KDMP masih perlu melihat implementasi program secara menyeluruh di lapangan. Ia mengingatkan agar koperasi tersebut mampu menciptakan aktivitas ekonomi baru dan tidak sekadar mengambil pasar dari usaha yang telah ada.
“Nah ini adalah menurut saya remain to be tested. Tapi saya di sini hanya mengingatkan the government. Impact-nya KDMP ini, jangan-jangan menjadi belum optimal,” tuturnya.
Sumber: Kompas.com
