![]() |
| SOSOK: Menteri ESDM Bahlil Lahadalia viral dengan lagu MBG "Mas Bahlil Ganteng" - Foto Dok Istimewa |
HABARMERDEKA.COM, JAKARTA – Lagu-lagu viral di media sosial kerap sulit lepas dari ingatan. Salah satu yang belakangan ramai diperbincangkan adalah lagu "Mas Bahlil Ganteng" atau MBG yang banyak beredar di berbagai platform digital. Meski terdengar sederhana, lagu seperti ini sering kali terus terngiang di kepala bahkan setelah musiknya berhenti diputar.
Fenomena tersebut ternyata memiliki penjelasan ilmiah. Dokter spesialis kedokteran jiwa dari RS Marzoeki Mahdi Bogor, Lahargo Kembaren, menyebut kondisi itu dikenal sebagai earworm atau Involuntary Musical Imagery (IMI), yaitu saat potongan lagu, melodi, atau lirik muncul berulang di pikiran tanpa disengaja.
"Mengapa lagu viral mudah terngiang-ngiang? Otak manusia memang dirancang untuk mengenali pola dan mengingat informasi yang sederhana, berulang, dan emosional," kata Lahargo dalam keterangan tertulis, dikutip Minggu (31/5/2026).
Menurutnya, sebagian besar lagu viral memiliki karakteristik yang membuatnya mudah menempel di memori. Mulai dari melodi yang sederhana, lirik yang pendek dan repetitif, ritme yang mudah diikuti, hingga paparan berulang melalui media sosial seperti TikTok, Instagram Reels, dan platform digital lainnya.
Lahargo menjelaskan bahwa ketika seseorang terus-menerus terpapar lagu yang sama, otak akan menganggap informasi tersebut penting sehingga lebih mudah tersimpan dalam memori jangka pendek.
Saat mendengarkan musik, beberapa bagian otak bekerja secara bersamaan. Area yang berperan antara lain korteks auditori yang memproses suara, hippocampus yang berkaitan dengan memori, amigdala yang mengatur emosi, serta sistem dopamin yang memunculkan rasa senang dan penasaran.
Akibat paparan yang berulang, jalur saraf tertentu menjadi semakin kuat. Kondisi ini membuat otak mampu memutar kembali lagu tersebut meskipun musiknya sudah berhenti.
"Ibaratnya, lagunya sudah selesai diputar, tetapi otak masih menekan tombol replay," ujar Lahargo.
Ia menambahkan bahwa fenomena earworm merupakan hal yang normal dan dialami hampir semua orang. Meski memiliki kemiripan dengan mekanisme kecanduan ringan karena melibatkan paparan berulang dan aktivasi dopamin, kondisi ini umumnya tidak sampai mengganggu fungsi seseorang secara serius.
Menariknya, lagu yang dianggap sederhana atau bahkan "receh" justru lebih mudah viral. Menurut Lahargo, otak manusia tidak selalu mengingat informasi yang paling cerdas atau paling penting.
Sebaliknya, otak cenderung menyimpan hal-hal yang unik, lucu, berulang, mengejutkan, dan mudah diprediksi. Dalam psikologi, kondisi ini dikenal sebagai mere exposure effect, yaitu kecenderungan seseorang menyukai sesuatu karena sering terpapar.
"Mengapa justru lagu yang dianggap receh sering viral? Karena otak tidak selalu mengingat hal yang paling cerdas," katanya.
Bagi mereka yang merasa terganggu karena lagu tertentu terus terngiang, Lahargo menyarankan beberapa langkah sederhana. Salah satunya adalah mendengarkan lagu tersebut hingga selesai agar otak mendapatkan rasa tuntas (closure).
Cara lain yang bisa dilakukan adalah mengalihkan perhatian ke aktivitas yang membutuhkan konsentrasi seperti membaca, berhitung, bermain teka-teki, atau berdiskusi secara fokus. Mengganti lagu dengan musik lain juga dapat membantu mengurangi kemunculan earworm.
Ia juga mengingatkan agar tidak terlalu memaksa diri untuk menghilangkan lagu dari pikiran karena justru bisa membuatnya semakin sering muncul.
Secara umum, earworm tidak berbahaya dan bahkan dapat memberikan efek positif seperti memperbaiki suasana hati, menghadirkan hiburan ringan, serta menciptakan rasa kebersamaan karena mengikuti tren yang sama.
Namun pada sebagian orang yang sedang mengalami stres, kecemasan, atau gangguan konsentrasi, kondisi ini bisa mengganggu fokus, menurunkan produktivitas, hingga memengaruhi kualitas tidur.
Meski demikian, hingga saat ini belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa lagu viral dapat menyebabkan gangguan mental jangka panjang pada orang sehat. Yang lebih perlu diperhatikan adalah kebiasaan mengonsumsi media sosial secara berlebihan karena berpotensi meningkatkan distraksi dan menurunkan rentang perhatian.
"Earworm adalah fenomena psikologis yang normal. Lagu viral mudah menempel karena sederhana, repetitif, emosional, dan terus-menerus muncul di lingkungan digital kita. Lagu viral itu seperti tamu yang awalnya cuma mampir, tapi karena sering dibukakan pintu oleh algoritma, akhirnya betah tinggal di kepala," pungkas Lahargo.
Sumber: Liputan6.com
