Rupiah Tembus Rp18.016 per Dolar AS, Industri Impor Tertekan

Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di pasar keuangan Indonesia.
MATA UANG: Ilustrasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS - Foto Dok Istimewa

HABARMERDEKA.COM, JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada awal perdagangan Kamis (4/6/2026). Mata uang Garuda tercatat melemah hingga menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS), yang selama ini menjadi salah satu batas penting yang diperhatikan pelaku pasar.

Berdasarkan data Google Finance pada pukul 09.00 WIB, kurs rupiah berada di posisi Rp18.016 per dolar AS. Pelemahan tersebut terjadi di tengah penguatan dolar AS serta meningkatnya kehati-hatian investor dalam merespons berbagai sentimen global yang memengaruhi pasar keuangan.

Pergerakan rupiah tersebut terjadi bersamaan dengan fluktuasi sejumlah mata uang di kawasan Asia Tenggara. Ringgit Malaysia tercatat berada di kisaran Rp4.518, sementara dolar Singapura diperdagangkan sekitar Rp13.902.

Melemahnya rupiah membawa dampak berbeda bagi berbagai sektor usaha. Industri yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor dan pinjaman dalam mata uang asing dinilai menjadi kelompok yang paling rentan menghadapi tekanan.

Research & Education Coordinator Valbury Asia Futures, Nanang Wahyudin, mengatakan sektor manufaktur menjadi salah satu yang paling terdampak dalam kondisi tersebut.

"Yang paling terpukul adalah industri dengan ketergantungan impor tinggi dan utang valas. Manufaktur seperti kimia, petrokimia, plastik, elektronik, dan otomotif termasuk yang menghadapi tekanan paling besar," kata Nanang.

Menurut dia, industri farmasi dan alat kesehatan juga menghadapi tantangan serupa karena masih bergantung pada pasokan bahan baku dari luar negeri. Ketika nilai tukar rupiah melemah, biaya pengadaan bahan baku berpotensi meningkat sehingga dapat memengaruhi struktur biaya perusahaan.

Selain itu, sektor tekstil dan garmen yang berorientasi pada pasar domestik juga diperkirakan menghadapi tekanan. Kondisi yang sama berlaku bagi industri makanan dan minuman yang menggunakan bahan baku impor dalam proses produksinya.

Nanang menambahkan perusahaan infrastruktur dan transportasi yang memiliki pinjaman dalam dolar AS perlu mencermati perkembangan kurs secara lebih ketat.

"Perusahaan yang memiliki kewajiban utang dalam dolar berisiko mengalami kenaikan beban keuangan ketika rupiah terus terdepresiasi," ujarnya.

Di sisi lain, pelemahan rupiah tidak selalu berdampak negatif. Sejumlah sektor justru berpotensi memperoleh keuntungan karena memiliki sumber pendapatan dalam dolar AS sementara sebagian besar biaya operasionalnya menggunakan rupiah.

Menurut Nanang, sektor berbasis sumber daya alam dan ekspor menjadi kelompok yang paling diuntungkan dalam situasi tersebut.

"Pemenang utama adalah sektor berbasis SDA dan berorientasi ekspor dengan biaya dominan rupiah serta pendapatan dalam dolar AS. Batu bara, migas, CPO, nikel, karet, pulp dan paper termasuk yang berpotensi menikmati manfaatnya," katanya.

Selain sektor komoditas, industri manufaktur yang berorientasi ekspor dan memiliki kandungan lokal tinggi juga dapat memperoleh keuntungan dari pelemahan rupiah. Industri furnitur, produk kayu, hingga tekstil ekspor menjadi beberapa contoh sektor yang berpotensi mendapat tambahan nilai dari selisih kurs.

Sektor pariwisata juga dinilai memiliki peluang untuk menikmati dampak positif. Nilai tukar rupiah yang lebih rendah membuat biaya berwisata di Indonesia menjadi relatif lebih murah bagi wisatawan mancanegara dibandingkan sebelumnya.

"Pariwisata berpotensi diuntungkan karena Indonesia menjadi lebih kompetitif di mata wisatawan asing. Namun manfaat tersebut tetap bergantung pada faktor lain di luar kurs," ujar Nanang.

Ia menilai stabilitas ekonomi, keamanan, kualitas destinasi, hingga konektivitas transportasi tetap menjadi faktor penting yang menentukan minat kunjungan wisatawan asing ke Indonesia.

Pelaku pasar kini masih mencermati perkembangan ekonomi global dan arah pergerakan dolar AS yang diperkirakan akan terus memengaruhi nilai tukar rupiah dalam jangka pendek. Selama ketidakpastian global masih berlangsung, volatilitas rupiah diperkirakan tetap menjadi perhatian utama dunia usaha dan investor.

Sumber: Merdeka.com

Lebih baru Lebih lama