![]() |
| KABUT: Penampakan kabut asap tebal akibat karhutla yang terjadi di Kota Banjarbaru - Foto Dok Istimewa |
HABARMERDEKA.COM, KALSEL - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Banjarbaru terus meluas hingga mencapai 945 hektare, sementara kabut asap tebal kembali mengepung kawasan Landasan Ulin dan Liang Anggang pada Selasa (18/8/2026) pagi.
Kabut asap mulai menebal sekitar pukul 07.00 WITA dan sempat mengurangi jarak pandang pengguna jalan. Di tengah kondisi tersebut, operasional penerbangan di Bandara Internasional Syamsudin Noor dipastikan masih berjalan normal.
Stakeholder Relation Manager PT Angkasa Pura Indonesia, Ahmad Zulfian Noor, mengatakan kondisi kabut asap belum mengganggu aktivitas penerbangan.
“Pagi tadi alhamdulillah tidak terganggu, masih dalam batas normal,” ujarnya.
Meski penerbangan tetap berjalan, kualitas udara Kota Banjarbaru berada dalam kategori tidak sehat. Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada pukul 07.00 WIB, konsentrasi polutan tercatat mencapai 72,8 µg/m³.
Meluasnya kabut asap tidak terlepas dari masih tingginya aktivitas karhutla di sejumlah wilayah Banjarbaru.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Banjarbaru mencatat luas lahan yang terdampak karhutla telah mencapai 945 hektare.
Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Banjarbaru, Harun Ar Rasyid, mengatakan kondisi di lapangan menjadi semakin kompleks karena titik api dapat muncul hampir bersamaan di lokasi yang berjauhan.
Cuaca panas dan angin yang kerap berubah arah juga membuat api lebih cepat membesar. Petugas turut menghadapi keterbatasan akses menuju lokasi kebakaran serta mulai menyusutnya sejumlah sumber air alami.
“Sesuai pantauan, sungai-sungai di lokasi semakin surut. Namun untuk sumber air hydrant alhamdulillah masih lancar,” kata Harun.
Jumlah kejadian karhutla di Banjarbaru juga berubah setiap harinya. Dalam beberapa hari, titik kebakaran dapat mencapai puluhan lokasi dengan skala dan tingkat keparahan yang berbeda.
Selain berupaya memadamkan karhutla, BPBD Banjarbaru memastikan keselamatan personel menjadi prioritas ketika bertugas di tengah kepungan asap.
Seluruh petugas di lapangan diminta disiplin menjalankan standar operasional prosedur (SOP) dan menggunakan alat pelindung diri (APD).
Harun memastikan sejauh ini tidak ada personel BPBD yang mengalami sesak napas akibat paparan asap saat bertugas.
“Untuk tim dari BPBD tidak ada yang mengalami sesak napas. Kami tidak akan memaksakan diri jika memang asap terlalu tebal dan membahayakan,” tegasnya.
Kondisi ini menunjukkan dampak karhutla Banjarbaru tidak hanya berkaitan dengan meluasnya area terbakar, tetapi juga mulai terasa melalui kabut asap dan penurunan kualitas udara.
Meski penerbangan di Bandara Syamsudin Noor masih normal, masyarakat di kawasan terdampak kabut asap diimbau tetap memperhatikan kondisi udara dan mengurangi paparan asap ketika konsentrasinya meningkat.
Penulis: M Faidurrahman
