Karhutla Balimau Tewaskan 12 Bekantan, 32 Lainnya Selamat

ENDEMIK: Satwa dilindungi bekantan - Foto Dok Istimewa

HABARMERDEKA.COM, KALSEL - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Balimau, Kecamatan Kalumpang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), berdampak pada habitat bekantan. Sebanyak 12 ekor bekantan ditemukan mati terbakar, sementara 32 ekor lainnya masih ditemukan hidup di lokasi berbeda.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Selatan Agus Ngurah Krisna Kepakisan mengatakan, jumlah bekantan yang ditemukan mati lebih banyak dari laporan awal yang menyebut 10 ekor.

Informasi mengenai bekantan terdampak karhutla diterima BKSDA Kalsel pada Minggu malam, 13 September 2026. Tim wildlife rescue kemudian diturunkan ke lokasi pada Senin pagi untuk memastikan kondisi di lapangan.

“Jadi, kabar tersebut kami terima pada Minggu malam, dan Senin paginya kami langsung memerintahkan tim penyelamat satwa untuk turun ke lokasi kejadian di Desa Balimau, Kecamatan Kalumpang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, guna melakukan pengecekan lapangan,” ujar Agus di Banjarbaru, Kamis (17/9/2026).

 

Tim bersama pemerintah desa dan masyarakat melakukan penyisiran di sekitar kawasan, termasuk sepanjang sungai. Dari pemeriksaan tersebut, ditemukan 12 bekantan yang telah mati akibat terbakar.

Bangkai seluruh satwa kemudian dikuburkan dengan disaksikan kepala desa dan masyarakat setempat.

“Dari informasi awal, bekantan yang menjadi korban ada 10 ekor. Namun, setelah dilakukan pengecekan lapangan, ternyata ada 12 ekor yang terdampak,” jelas Agus.

Karhutla diketahui melanda lahan seluas kurang lebih 9 hektare. Di luar area yang terbakar, tim masih menemukan kelompok bekantan yang bertahan hidup.

Sebanyak 32 ekor bekantan dari kelompok yang sama ditemukan di lokasi lain yang berada di sisi berbeda dari kawasan kebakaran.

“Dijumpai ada 32 ekor bekantan dari kelompok yang sama yang masih hidup. Mereka berada di tempat lain, di sisi berbeda dari lokasi kebakaran,” tutur Agus.

Berdasarkan keterangan kepala desa dan hasil peninjauan lapangan, api diduga berasal dari luar kawasan habitat bekantan. Api kemudian terbawa angin kencang hingga merembet ke habitat bekantan pada sore menjelang malam.

“Dari keterangan kepala desa, api itu memang bukan berasal dari desa setempat. Api diduga berasal dari tempat lain yang terbawa angin hingga merembet masuk ke area habitat bekantan ini,” ungkapnya.

Agus mengatakan masyarakat bersama pemerintah desa selama ini telah melakukan upaya menjaga kawasan habitat tersebut. Di antaranya memasang papan peringatan sejak 2016 serta membagikan dokumentasi kegiatan pelestarian lingkungan melalui media sosial.

BKSDA Kalsel menyatakan prihatin atas kematian belasan bekantan tersebut. Agus mengingatkan perlunya perhatian bersama terhadap habitat satwa dilindungi, termasuk kawasan yang berada di luar kawasan konservasi.

“Kami juga prihatin dan sangat terpukul, apalagi bekantan ini merupakan satwa yang dilindungi dan menjadi ikon Kalimantan Selatan. Kami mengharapkan para pemerhati lingkungan dapat bekerja sama menjaga satwa-satwa yang ada di Kalsel,” katanya.

Berdasarkan catatan BKSDA Kalsel, populasi bekantan di Kalimantan Selatan pada 2025 diperkirakan sekitar 3.700 individu. Sekitar sepertiga berada di kawasan konservasi, sedangkan sekitar dua pertiganya berada di luar kawasan konservasi, seperti hutan produksi, hutan lindung, dan areal penggunaan lain (APL).

Habitat bekantan yang terdampak karhutla di Balimau berada di kawasan APL yang merupakan tanah milik desa setempat.

Ke depan, BKSDA Kalsel akan melanjutkan pendataan kawasan APL yang menjadi habitat satwa liar. Sosialisasi bersama pemerintah desa juga akan diperkuat, termasuk mengoptimalkan pusat penyelamatan satwa melalui layanan call center.

BKSDA juga mendorong penetapan area preservasi baru berbasis resor untuk memperkuat perlindungan habitat satwa liar di luar kawasan konservasi.

Upaya tersebut diarahkan untuk menjaga habitat satwa liar sekaligus tetap menghormati status kepemilikan tanah masyarakat.

Penulis: M Faidurrahman 

Lebih baru Lebih lama