![]() |
| VIRAL: Ilustrasi gerakan satir Cockroach Janta Party atau Partai Kecoak yang viral di India dan ramai di media sosial - Foto Dok Istimewa |
HABARMERDEKA.COM, NEW DELHI – Sebuah gerakan satir bernama Cockroach Janta Party (CJP) atau “Partai Kecoak” mendadak viral di India dan menarik jutaan pengikut di media sosial hanya dalam beberapa hari.
Popularitas gerakan tersebut bahkan melampaui akun resmi Bharatiya Janata Party (BJP), partai penguasa yang dipimpin Perdana Menteri Narendra Modi.
Fenomena ini muncul setelah komentar kontroversial Ketua Mahkamah Agung India, Surya Kant, dalam sebuah sidang yang memicu kemarahan publik.
Surya Kant diduga membandingkan anak muda pengangguran dengan kecoak dan parasit. Pernyataan itu langsung menyebar luas di media sosial dan menuai kritik dari berbagai kalangan.
Belakangan, Surya Kant memberikan klarifikasi bahwa komentarnya ditujukan kepada orang-orang dengan gelar palsu dan tidak sah, bukan kepada generasi muda India secara umum.
Namun, klarifikasi tersebut tidak menghentikan gelombang reaksi publik yang sudah terlanjur berkembang di internet.
Dari kontroversi itu, lahirlah Cockroach Janta Party, nama yang diparodikan dari Bharatiya Janata Party (BJP).
CJP bukan partai politik resmi, melainkan gerakan satir berbasis internet yang menyasar keresahan generasi muda India.
Gerakan itu dibuat oleh Abhijeet Dipke, ahli komunikasi politik sekaligus mahasiswa di Boston University.
Sebelum pindah ke Amerika Serikat, Dipke diketahui pernah bekerja dengan Aam Aadmi Party (AAP), partai oposisi India yang dikenal kuat di media sosial.
“Saya berpikir kami semua harus bersatu, mungkin membuat sebuah platform,” kata Dipke kepada BBC Marathi, Kamis (21/5/2026).
Awalnya, ide tersebut hanya dimaksudkan sebagai lelucon. Namun, gerakan itu berkembang cepat dan menarik perhatian luas.
Situs resmi CJP menyebut diri mereka sebagai suara kaum malas dan pengangguran. Gerakan itu juga mengklaim memiliki “nol sponsor dan satu kawanan keras kepala”.
Pemilihan kecoak sebagai maskot dianggap memiliki makna simbolik.
Bagi para pendukungnya, kecoak bukan sosok heroik, melainkan simbol makhluk tangguh yang mampu bertahan hidup dalam kondisi sulit dan penuh tekanan.
Dalam hitungan hari, gerakan itu berhasil mengumpulkan puluhan ribu pendaftar melalui formulir Google dan memunculkan tagar #MainBhiCockroach atau “Saya Juga Kecoak”.
Fenomena tersebut juga menarik perhatian tokoh oposisi India, termasuk Akhilesh Yadav.
Pada Rabu (20/5/2026), Yadav bahkan menulis di platform X, “BJP vs CJP”.
Popularitas CJP melonjak tajam di media sosial.
Pada Kamis (21/5/2026), akun Instagram CJP disebut telah melampaui 10 juta pengikut, melewati akun resmi BJP yang memiliki sekitar 8,7 juta followers.
BJP sendiri selama ini dikenal sebagai salah satu partai politik terbesar di dunia berdasarkan jumlah anggota.
Namun, akun X milik CJP yang memiliki lebih dari 200 ribu pengikut kini tidak dapat diakses di India.
Pengguna yang mencoba membuka akun tersebut menerima pemberitahuan bahwa akun ditahan sebagai respons terhadap tuntutan hukum.
Meski viral, belum ada tanda bahwa CJP akan berubah menjadi kekuatan politik formal di India.
BJP dan oposisi Kongres tetap menjadi kekuatan dominan dengan jutaan anggota aktif di seluruh negeri.
Namun, banyak pendukung menilai CJP menjadi simbol frustrasi generasi muda terhadap kondisi politik saat ini.
“Orang-orang frustrasi karena mereka tidak merasa didengar atau diwakili,” ujar Dipke.
India sendiri memiliki salah satu populasi termuda terbesar di dunia. Sekitar separuh dari 1,4 miliar penduduknya berusia di bawah 30 tahun.
Meski demikian, partisipasi politik formal di kalangan anak muda masih tergolong rendah.
Sebuah survei menemukan sekitar 29 persen anak muda India memilih menghindari keterlibatan politik sepenuhnya. Sementara hanya 11 persen yang menjadi anggota partai politik.
Menurut Dipke, Generasi Z mulai kehilangan kepercayaan terhadap partai politik tradisional dan mencari cara baru untuk mengekspresikan diri.
“Generasi Z sudah menyerah pada partai politik tradisional dan ingin menciptakan wadah politik mereka sendiri dengan bahasa yang mereka pahami,” katanya.
Sumber: Kompas.com
