Viral Seleksi Paskibraka Sulsel, BPIP Bantah Diskriminasi

Proses seleksi calon Paskibraka tingkat nasional di Sulawesi Selatan
SOSOK: Siswi asal Makassar, Cathlyn Yvaine Lesmana, gagal melaju ke tahap nasional karena tidak bisa bahasa daerah - Foto Dok Istimewa

HABARMERDEKA.COM, JAKARTA – Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) membantah adanya praktik diskriminasi dalam proses seleksi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) tingkat nasional 2026 di Sulawesi Selatan.

Pernyataan tersebut disampaikan setelah polemik seleksi Paskibraka Sulsel ramai diperbincangkan di media sosial dan memunculkan berbagai dugaan terkait proses penilaian peserta.

Sorotan publik menguat setelah siswi asal Makassar, Cathlyn Yvaine Lesmana, gagal melaju ke tahap nasional meski sebelumnya disebut masuk dalam tiga besar hasil seleksi awal calon Paskibraka perwakilan Sulawesi Selatan.

Cathlyn merupakan siswi SMA Cerdas Bangsa Makassar. Namanya sempat disebut berpeluang mewakili Sulsel ke tingkat nasional sebelum akhirnya tidak tercantum dalam daftar akhir peserta yang diberangkatkan ke Jakarta.

Wakil Kepala BPIP, Rima Agristina, memastikan seluruh tahapan seleksi dilakukan sesuai prosedur dan berada dalam pengawasan langsung BPIP.

“Kami pastikan bahwa setiap proses itu juga dimonitor oleh BPIP. Jadi tidak ada tindakan diskriminasi tersebut,” kata Rima kepada wartawan, Jumat (29/5/2026).

Menurut dia, BPIP langsung menurunkan tim setelah menerima laporan terkait isu yang berkembang di masyarakat.

Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan proses seleksi berjalan sesuai ketentuan yang berlaku.

“Kami di BPIP juga ketika mendapatkan laporan-laporan, kami langsung menerjunkan tim untuk melihat apakah isu tersebut berkembang sesuai apa yang disampaikan ya, dan kami mengecek memastikan bahwa penanganannya itu sesuai dengan peraturan yang ada,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Penyelenggaraan Program Paskibraka BPIP Pusat, Fuad Lutfi, menjelaskan proses seleksi di Sulawesi Selatan melibatkan berbagai unsur, mulai dari pemerintah daerah, panitia seleksi provinsi, hingga tim monitoring dan evaluasi pusat.

Ia mengatakan penilaian peserta dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya berdasarkan kemampuan akademik maupun wawasan kebangsaan.

Beberapa aspek yang menjadi komponen penilaian meliputi kesehatan, kesamaptaan, kemampuan baris-berbaris, kepribadian, disiplin, kesiapan mental, serta wawasan kebangsaan peserta.

Seleksi dilaksanakan secara bertahap mulai tingkat kabupaten dan kota, provinsi, hingga verifikasi nasional.

Fuad juga menepis isu yang mengaitkan hasil seleksi dengan faktor suku, agama, ras, maupun latar belakang tertentu.

Menurut dia, seluruh peserta dinilai menggunakan indikator seleksi nasional yang sama.

BPIP turut menanggapi sorotan terkait penggunaan bahasa daerah dalam sesi wawancara peserta.

Fuad menegaskan penguasaan bahasa daerah bukan bagian dari komponen penilaian utama yang menentukan kelulusan peserta seleksi.

“Penguasaan bahasa daerah itu bukan termasuk komponen penilaian. Itu hanya bagian dari dialog pewawancara untuk melihat kemampuan dan wawasan peserta secara umum, karena akan mewakili daerahnya,” kata Fuad.

BPIP memastikan proses seleksi Paskibraka nasional tetap mengedepankan prinsip objektivitas, profesionalitas, dan kesetaraan bagi seluruh peserta dari berbagai daerah di Indonesia.

Sumber: Inews.id

Lebih baru Lebih lama