![]() |
| DIALOG: Bupati HSS Syafrudin Noor menerima audiensi Tim Riset BRIN terkait penelitian budaya Dayak Meratus di Loksado - Foto Dok Istimewa |
HABARMERDEKA.COM, KALSEL – Kearifan lokal masyarakat Dayak Meratus di Kecamatan Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), dinilai memiliki peran penting dalam menjaga kelestarian lingkungan. Tradisi yang diwariskan secara turun-temurun itu bahkan dianggap sejalan dengan prinsip konservasi alam modern yang saat ini terus dikembangkan berbagai negara.
Hal tersebut mengemuka saat Bupati Hulu Sungai Selatan, H. Syafrudin Noor, menerima audiensi Tim Riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di ruang kerjanya, Selasa (2/6/2026). Pertemuan tersebut menjadi penutup rangkaian penelitian tahun kedua yang dilakukan BRIN di kawasan Pegunungan Meratus, khususnya Kecamatan Loksado.
Penelitian tersebut berfokus pada pengkajian adat istiadat, tradisi lisan, serta kebudayaan masyarakat lokal, terutama komunitas Dayak Meratus yang masih mempertahankan berbagai nilai adat dalam kehidupan sehari-hari.
Tim riset dipimpin Ketua Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) dari Pusat Riset Bahasa, Sastra, dan Komunitas Organisasi Riset Arkeologi BRIN, DR. Dessy Wahyuni. Menurutnya, Hulu Sungai Selatan dipilih sebagai salah satu lokasi penelitian karena memiliki kekayaan budaya yang masih terjaga, terutama terkait konsep "Pamali Meratus".
Pamali Meratus merupakan seperangkat aturan adat berupa larangan dan pantangan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Meski berakar dari kepercayaan Kaharingan, berbagai aturan tersebut terbukti memiliki fungsi penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan.
"Seluruh hasil riset ini segera dibukukan. Dokumen tersebut nantinya diproyeksikan menjadi bahan literasi yang sangat berharga bagi generasi muda agar tidak kehilangan akar budaya Loksado, sekaligus berfungsi sebagai panduan edukatif bagi para wisatawan yang berkunjung," ujar Dessy.
Dalam praktiknya, masyarakat Dayak Meratus mengenal berbagai pantangan yang berkaitan langsung dengan pelestarian alam. Di antaranya larangan menebang pohon di kawasan yang dianggap keramat, larangan menangkap ikan menggunakan racun, setrum, maupun bahan peledak, hingga larangan berburu satwa saat musim kawin atau berkembang biak.
Selain itu, terdapat pula aturan adat yang melarang pembukaan ladang di kawasan hulu, membuang sampah di sekitar mata air, menebang pohon ulin secara sembarangan, membuka jalur baru tanpa ritual adat, serta mengambil sarang lebah madu dengan cara yang dapat merusak habitatnya.
Aturan-aturan tersebut selama berabad-abad dipatuhi masyarakat dan secara tidak langsung berfungsi sebagai sistem perlindungan lingkungan berbasis komunitas yang efektif.
Bupati Hulu Sungai Selatan, H. Syafrudin Noor, menyampaikan apresiasi atas penelitian yang dilakukan BRIN. Menurutnya, hasil riset tersebut menjadi langkah penting dalam mendokumentasikan kekayaan budaya lokal sekaligus memperkenalkannya kepada masyarakat yang lebih luas.
Ia berharap publik tidak hanya mengenal Loksado sebagai destinasi wisata alam, tetapi juga memahami nilai-nilai budaya yang menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat setempat.
"Kami berharap hasil riset ini nantinya mampu mengedukasi masyarakat luas dan para wisatawan. Kami ingin dunia luar mengenal Loksado tidak hanya sebatas keindahan lanskap wisatanya saja, melainkan satu kesatuan utuh dengan keluhuran adat dan budaya lokalnya yang terbukti sangat menjunjung tinggi nilai moral, etika, dan kelestarian lingkungan," kata Syafrudin.
Menurutnya, budaya Dayak Meratus menunjukkan bahwa adat istiadat dapat menjadi instrumen efektif dalam menjaga keseimbangan alam. Kepatuhan masyarakat terhadap aturan adat selama ini terbukti mampu menjaga hutan, sumber air, serta keanekaragaman hayati yang menjadi kekayaan kawasan Pegunungan Meratus.
Temuan penelitian tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa pelestarian lingkungan tidak selalu bergantung pada regulasi formal. Dalam banyak kasus, nilai budaya dan kearifan lokal justru mampu menjadi benteng perlindungan alam yang lebih kuat karena tumbuh dari kesadaran kolektif masyarakat itu sendiri.
Penulis: Farid
