Gerakan Santri Menanam Sorgum Diluncurkan di Kalsel, Dorong Ketahanan Pangan Nasional

KETAHANAN PANGAN: Prosesi penanaman Sorgum di lingkungan Pondok Pesantren Darul Ilmi, Banjarbaru - Foto Dok M Faidurrahman 

HABARMERDEKA.COM, KALSEL – Upaya memperkuat ketahanan pangan nasional terus didorong melalui berbagai inovasi berbasis masyarakat. Salah satunya diwujudkan melalui peluncuran Gerakan Santri Menanam berbasis budidaya sorgum yang digagas Ikatan Pesantren Indonesia (IPI) bersama Induk Koperasi Pondok Pesantren (Inkopontren).

Program nasional tersebut resmi dimulai melalui proyek percontohan di Pondok Pesantren Darul Ilmi, Liang Anggang, Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Senin (15/6/2026).

Gerakan ini hadir sebagai respons terhadap tantangan ketahanan pangan nasional di tengah tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor gandum yang mencapai rata-rata 8,3 juta ton per tahun dengan nilai sekitar USD 2,4 miliar.

Sorgum dipilih sebagai komoditas utama karena memiliki kemampuan adaptasi tinggi terhadap berbagai kondisi lahan, termasuk lahan marginal dan lahan kering yang minim air. Selain itu, tanaman serealia tersebut memiliki nilai ekonomi yang menjanjikan karena seluruh bagian tanaman dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan pangan, pakan ternak, hingga energi.

Ketua Inkopontren sekaligus Wakil Ketua Umum MUI Pusat, KH Marsudi Syuhud, menegaskan bahwa ketahanan pangan merupakan fondasi utama bagi kemandirian bangsa.

“Negara yang kuat dan tangguh itu jika makanannya bisa surplus untuk dirinya sendiri. Bayangkan kalau kita serba impor dan suatu saat makanan itu tidak ada, sangat berbahaya. Koperasi di sini tidak hanya mengurus simpan pinjam, tapi juga menggerakkan sektor riil,” ujar KH Marsudi Syuhud.

Ia menjelaskan, Indonesia memiliki potensi besar melalui jaringan pesantren yang tersebar di seluruh daerah. Saat ini terdapat sekitar 42.000 pondok pesantren di Indonesia, termasuk sekitar 330 pesantren yang berada di Kalimantan Selatan.

Menurutnya, pesantren tidak hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan dan dakwah, tetapi juga dapat menjadi motor penggerak ekonomi dan ketahanan pangan masyarakat.

“Pondok pesantren diharapkan bisa mandiri, bahkan mampu membantu memenuhi kebutuhan masyarakat di sekitarnya. Jangan sampai ada tanah yang menganggur, karena tanah yang produktif dapat memberikan manfaat besar bagi umat,” katanya.

KH Marsudi juga mengapresiasi langkah Pondok Pesantren Darul Ilmi yang dinilai berhasil mengembangkan berbagai sektor pertanian produktif. Ia berharap model tersebut dapat direplikasi oleh pesantren lain di seluruh Indonesia.

Sementara itu, Ketua Puskopontren Kalimantan Selatan, H. Edy Setyo Utomo, mengatakan pihaknya terus mengonsolidasikan lahan-lahan yang belum dimanfaatkan secara optimal, termasuk lahan eks tambang melalui program reklamasi yang didukung sejumlah perusahaan.

“Kami bergerak mengonsolidasikan lahan-lahan marginal yang belum maksimal diolah, termasuk lahan eks tambang. Kita juga menyiapkan industrinya agar program ini berkelanjutan,” ujarnya.

Gerakan Santri Menanam didukung oleh kolaborasi sejumlah pihak. IPI berperan dalam penyediaan dan konsolidasi lahan, Inkopontren mengelola aspek bisnis dan manajemen, sementara Sorgum Sejahtera Foundation menyediakan bibit dan pupuk sekaligus menjadi pembeli hasil panen.

Dari sisi ekonomi, budidaya sorgum dinilai cukup menjanjikan dengan estimasi pendapatan mencapai Rp40 juta hingga Rp50 juta per hektare per tahun.

Untuk tahap awal, program ini dimulai melalui pengembangan lahan seluas lima hektare di kawasan Pondok Pesantren Darul Ilmi dan wilayah Jorong. Selanjutnya akan dilakukan pengembangan bertahap hingga mencapai ratusan hektare guna mendukung kebutuhan industri dan memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Tahap pengembangan meliputi perluasan lahan hingga 100 hektare pada tahap pertama, dilanjutkan 200 hektare pada tahap kedua, dan tambahan 200 hektare pada tahap ketiga.

Melalui Gerakan Santri Menanam, pesantren diharapkan mampu menjadi pusat pemberdayaan ekonomi sekaligus pelopor kemandirian pangan nasional berbasis potensi lokal yang berkelanjutan.

Penulis: M Faidurrahman 

Lebih baru Lebih lama