![]() |
| KOMPAK: Wali Kota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby bersama Wakil Wali Kota Wartono dan sejumlah masyarakat dalam salah satu kegiatan publik - Foto Dok M Faidurrahman |
HABARMERDEKA.COM, KALSEL – Dalam satu tahun terakhir, wajah Banjarbaru tidak hanya berubah melalui pembangunan fisik atau angka-angka ekonomi. Perubahan itu juga terasa dari cara pemerintah kota mulai lebih sering hadir di ruang-ruang kecil kehidupan warganya.
Di bawah kepemimpinan Wali Kota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby bersama Wakil Wali Kota Wartono, arah pembangunan Banjarbaru perlahan bergeser: dari sekadar mengejar pertumbuhan, menjadi upaya menghadirkan kota yang lebih dekat, lebih terbuka, dan lebih merata bagi semua lapisan masyarakat.
Berbagai kebijakan yang dijalankan sepanjang tahun pertama pemerintahan tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur dan investasi, tetapi juga menyentuh pendidikan, kelompok rentan, penyandang disabilitas, pelaku usaha kecil, hingga persoalan lingkungan yang dihadapi warga setiap hari.
Saat Pemerintah Lebih Dekat dengan Warga
![]() |
| DIALOG: Wali Kota Lisa mendengarkan masukan secara langsung dari kelompok rentan - Foto Dok Istimewa |
Salah satu perubahan yang paling terasa dalam setahun terakhir adalah menguatnya pendekatan sosial dalam berbagai kebijakan Pemerintah Kota Banjarbaru.
Kelompok rentan yang selama ini kerap berada di pinggiran perhatian pembangunan mulai memperoleh ruang lebih besar. Lansia, janda, kaum dhuafa, penyandang disabilitas, hingga pekerja informal menjadi bagian dari agenda yang secara rutin mendapat perhatian pemerintah daerah.
Pendekatan tersebut terlihat melalui berbagai dialog tatap muka yang dilakukan langsung bersama warga. Pemerintah tidak hanya menyalurkan bantuan sosial, tetapi juga membuka ruang komunikasi agar berbagai persoalan masyarakat dapat didengar secara langsung.
Saat berdialog dengan kelompok rentan di Banjarbaru Selatan pada Februari 2026, Lisa menegaskan bahwa bantuan harus benar-benar sampai kepada masyarakat yang membutuhkan.
“Ulun ingin langsung bertatap muka kepada buhan pian-pian, dan alhamdulillah hari ini bisa terlaksana. Kami dari Pemerintah Kota Banjarbaru menginginkan bantuan disalurkan tepat sasaran dan benar-benar diterima oleh yang membutuhkan,” ujarnya.
Perhatian serupa juga diberikan kepada penyandang disabilitas. Selain memperkuat pendidikan inklusif, pemerintah kota membuka akses pelatihan kerja melalui kolaborasi dengan dunia usaha.
Komitmen tersebut diperkuat melalui pelatihan kerja bagi penyandang disabilitas yang dilaksanakan bersama sektor swasta. Program tersebut tidak hanya membekali peserta dengan keterampilan dasar, tetapi juga membuka peluang kerja yang lebih luas.
“Kami ingin penyandang disabilitas di Banjarbaru memiliki kesempatan yang sama untuk bekerja, mandiri, bahkan berwirausaha,” tegas Lisa.
Perhatian kepada kelompok disabilitas juga tercermin melalui penghargaan yang diberikan kepada atlet NPCI Banjarbaru yang berhasil mengharumkan nama Indonesia pada ASEAN Para Games 2025 di Thailand.
Sementara itu, pengajar Al-Qur'an yang selama ini berperan penting dalam pendidikan karakter mendapatkan peningkatan jumlah penerima insentif hingga 100 persen.
Di sisi lain, PPPK paruh waktu dan PJLOP untuk pertama kalinya menerima Tunjangan Hari Raya (THR). Kebijakan ini menjadi salah satu bentuk perhatian pemerintah terhadap para pekerja yang selama ini menjadi bagian penting pelayanan publik.
Semua langkah tersebut menunjukkan satu pola yang sama: pemerintah berusaha hadir lebih dekat dan lebih manusiawi.
Pendidikan sebagai Cermin Masa Depan
![]() |
| RAMAI: Wali Kota Banjarbaru bersama pelajar tingkat sekolah dasar dan menengah - Foto Dok M Faidurrahman |
Selain memperkuat perlindungan sosial, Banjarbaru juga menempatkan pendidikan sebagai fondasi utama pembangunan jangka panjang.
Berbagai indikator menunjukkan tren yang positif. Mulai dari capaian pendidikan masyarakat, peningkatan kualitas layanan sekolah, hingga penguatan sistem pendidikan inklusif.
Banjarbaru berhasil meraih penghargaan implementasi Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Terbaik yang Objektif dan Transparan pada BPMP Kalsel Award 2026.
Pencapaian tersebut tidak berdiri sendiri. Kota ini juga mencatat skor literasi tingkat SMP sebesar 88,42 persen yang menjadi salah satu capaian tertinggi di daerah.
Menurut Lisa, kualitas pendidikan harus terus diperkuat agar mampu menciptakan generasi yang siap menghadapi tantangan masa depan.
“Capaian literasi 88,42 persen ini menunjukkan bahwa upaya kita membangun ekosistem pendidikan yang aman, nyaman, dan berkualitas sudah berada di jalur yang tepat,” ujarnya.
Komitmen terhadap pendidikan yang setara juga terlihat melalui penguatan sekolah inklusif.
Saat ini terdapat ratusan anak berkebutuhan khusus yang bersekolah di Banjarbaru. Untuk memperkuat layanan tersebut, pemerintah kota menyiapkan tambahan 43 Guru Pendamping Khusus guna memenuhi kebutuhan pendampingan belajar.
Langkah tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan tidak lagi dipandang sebagai layanan eksklusif, melainkan hak yang harus dapat diakses seluruh anak tanpa terkecuali.
Ekonomi yang Mulai Bergerak Lebih Dinamis
![]() |
| UMKM: Wali Kota Lisa mengunjungi salah satu stan gratis untuk pelaku UMKM di Pasar Ramadan 2026 - Foto Dok M Faidurrahman |
Di balik berbagai program sosial dan pendidikan, Banjarbaru juga menunjukkan geliat ekonomi yang semakin kuat.
Kepercayaan investor terhadap kota ini meningkat, tercermin dari realisasi investasi yang berhasil menembus lebih dari Rp1 triliun.
Pertumbuhan tersebut didukung oleh sektor jasa, perdagangan, kesehatan, dan transportasi yang berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir.
Namun pembangunan ekonomi tidak hanya berorientasi pada investasi skala besar.
Di tingkat akar rumput, pemerintah daerah juga mendorong penguatan UMKM sebagai fondasi ekonomi kerakyatan.
Pasar Ramadan 2026 yang menyediakan 170 stan gratis bagi pelaku usaha lokal menjadi salah satu contoh nyata bagaimana pemerintah memberi ruang kepada UMKM untuk berkembang.
Langkah lain dilakukan melalui peresmian Rumah Produksi Bigfast di Liang Anggang.
Menurut Lisa, keberadaan rumah produksi tersebut bukan sekadar fasilitas usaha, melainkan simbol tumbuhnya ekonomi masyarakat berbasis kreativitas dan kemandirian.
“Ini bukan hanya soal bangunan atau tempat produksi, tetapi simbol bahwa ekonomi kerakyatan kita terus bergerak dan berkembang,” katanya.
Selain itu, penerapan Upah Minimum Kota (UMK) menjadi tonggak baru dalam perkembangan ekonomi Banjarbaru yang semakin formal dan kompetitif.
Perpaduan antara investasi besar dan penguatan ekonomi rakyat menjadi salah satu karakter pembangunan ekonomi Banjarbaru selama setahun terakhir.
Kota yang Mulai Berbenah Secara Menyeluruh
![]() |
| PENINJAUAN LANGSUNG: Wali Kota Lisa memantau langsung proses perbaikan drainase di sejumlah titik - Foto Dok Istimewa |
Transformasi Banjarbaru tidak hanya terlihat pada sektor sosial, pendidikan, dan ekonomi. Dalam satu tahun terakhir, upaya pembenahan kota juga dilakukan melalui penguatan infrastruktur dasar, pengelolaan lingkungan, dan peningkatan kualitas ruang hidup masyarakat.
Salah satu isu yang mendapat perhatian serius adalah pengelolaan sampah. Pemerintah Kota Banjarbaru mulai mendorong perubahan paradigma dari pola lama kumpul-angkut-buang menuju pengelolaan berbasis sumber. Melalui studi tiru ke Kelurahan Rorotan, Jakarta Utara, pada April 2026, pemerintah daerah mempelajari berbagai praktik pengolahan sampah modern yang menempatkan rumah tangga sebagai titik awal penyelesaian persoalan.
Komitmen tersebut mendapat dukungan langsung dari pemerintah pusat. Saat berkunjung ke Banjarbaru pada April 2026, Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq bahkan menyebut Banjarbaru memiliki potensi besar menjadi contoh nasional dalam pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
"Banjarbaru ini suatu kota yang strukturnya itu sangat mudah dimanajemen. Saatnya Banjarbaru membangun keunggulan komparatif ini menjadi keunggulan kompetitif," ujar Hanif saat meninjau pengelolaan sampah di Kelurahan Guntung Paikat.
Pemerintah Kota kemudian menyiapkan sejumlah kelurahan sebagai kawasan percontohan pengelolaan sampah dari sumber, sekaligus memperkuat partisipasi warga melalui penyediaan sarana pendukung dan edukasi lingkungan. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menuju pengelolaan kota yang lebih berkelanjutan sekaligus mendukung target penghargaan Adipura.
Di sektor infrastruktur dasar, perhatian pemerintah juga diarahkan pada persoalan yang selama ini paling sering dikeluhkan masyarakat, yakni banjir dan genangan air saat musim hujan.
Sebagai bagian dari solusi jangka panjang, Pemerintah Kota Banjarbaru meresmikan Kolam Retensi Guntung Jingah pada Oktober 2025. Infrastruktur tersebut dibangun untuk menampung limpasan air hujan sekaligus mengurangi risiko luapan Sungai Kemuning yang kerap menyebabkan genangan di kawasan sekitar.
"Selesainya pembangunan Kolam Retensi Guntung Jingah ini adalah bukti keseriusan pemerintah dalam menanggulangi banjir dan genangan air di Kota Banjarbaru. Kolam ini diharapkan mampu mereduksi limpasan air hujan sekaligus menjadi area resapan," ujar Wali Kota Hj. Erna Lisa Halaby saat peresmian.
Kolam retensi dengan kapasitas tampung sekitar 5.000 meter kubik tersebut tidak hanya berfungsi sebagai infrastruktur pengendali banjir, tetapi juga dilengkapi taman dan ruang terbuka yang dapat dimanfaatkan masyarakat sebagai area rekreasi dan aktivitas olahraga.
Upaya pembenahan infrastruktur juga terlihat melalui respons cepat terhadap berbagai persoalan di lapangan. Pada Juni 2026, Wali Kota Lisa turun langsung meninjau perbaikan drainase di ruas Jalan Ahmad Yani yang selama ini menjadi titik rawan genangan ketika curah hujan meningkat.
Penanganan dilakukan setelah evaluasi menunjukkan kapasitas saluran pembuangan air belum mampu menampung aliran secara optimal. Pemerintah Kota bergerak cepat bersama Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan dan Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) untuk mempercepat penyelesaian pekerjaan.
"Hanya dalam hitungan hari setelah pemantauan, penanganan sudah mulai dilakukan. Semoga perbaikan ini menjadi solusi efektif untuk mengurangi genangan, memperlancar arus lalu lintas, dan meningkatkan kenyamanan masyarakat Banjarbaru," kata Lisa.
Selain penanganan drainase dan pengendalian banjir, pembenahan infrastruktur perkotaan juga dilakukan melalui percepatan perbaikan jalan di berbagai wilayah. Pemerintah Kota menginstruksikan camat dan lurah agar aktif memfasilitasi laporan masyarakat terkait jalan rusak, sekaligus memperkuat komunikasi publik mengenai progres pembangunan yang tengah berjalan.
Pendekatan tersebut menunjukkan adanya upaya membangun tata kelola yang lebih responsif, di mana masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat pembangunan, tetapi juga bagian dari proses pengawasan dan penyampaian aspirasi.
Di saat yang sama, Banjarbaru juga mulai mempersiapkan arah pembangunan jangka panjang melalui pengembangan kawasan strategis berbasis potensi daerah. Salah satunya adalah penguatan konsep Aero City yang memanfaatkan posisi Banjarbaru sebagai gerbang utama Kalimantan Selatan melalui keberadaan Bandara Syamsudin Noor.
Konsep ini diproyeksikan menjadi salah satu mesin pertumbuhan baru yang akan memperkuat sektor perdagangan, jasa, logistik, dan investasi di masa mendatang.
Seluruh langkah tersebut menunjukkan bahwa pembangunan Banjarbaru tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi semata, tetapi juga pada upaya menciptakan kota yang lebih tertata, nyaman, sehat, dan berkelanjutan. Sebuah pendekatan yang menempatkan kualitas hidup masyarakat sebagai tujuan utama pembangunan kota.
Perubahan yang Masih Berjalan
![]() |
| KOMPAK: Wali Kota Banjarbaru Hj. Erna Lisa Halaby bersama salah satu kelompok rentan dalam kegiatan Hari Down Syndrome Sedunia - Foto Dok M Faidurrahman |
Satu tahun perjalanan Banjarbaru EMAS menunjukkan bahwa pembangunan tidak selalu hadir dalam bentuk gedung baru atau angka statistik yang tinggi.
Perubahan juga dapat terlihat dari cara pemerintah mendengar aspirasi warga, membuka ruang yang lebih luas bagi kelompok rentan, memperkuat akses pendidikan, mendukung pelaku usaha kecil, hingga merespons cepat persoalan lingkungan dan infrastruktur.
Berbagai penghargaan yang diraih sepanjang tahun pertama pemerintahan menjadi indikator capaian. Namun ukuran yang lebih penting adalah sejauh mana manfaat pembangunan benar-benar dirasakan masyarakat.
Perjalanan menuju Banjarbaru EMAS (Elok, Maju, Adil, dan Sejahtera) masih panjang. Tantangan pemerataan pembangunan, kualitas layanan publik, penguatan ekonomi daerah, dan keberlanjutan lingkungan akan terus menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.
Namun satu tahun pertama ini telah menunjukkan arah yang mulai terbentuk: Banjarbaru tidak hanya ingin tumbuh lebih cepat, tetapi juga bergerak lebih dekat dengan warganya.
Penulis: M Faidurrahman





