![]() |
| SOSOK: Ketua Komisi II DPR RI Rifqinizamy Karsayudha - Foto Dok Istimewa |
HABARMERDEKA.COM, KALSEL - Pernyataan Ketua Komisi II DPR RI M. Rifqinizamy Karsayudha yang menyebut masih ada aparatur sipil negara (ASN) dengan pola kerja "datang absen, ngopi, sore absen lagi" menuai tanggapan dari kalangan ASN di Kalimantan Selatan. Mereka menilai pernyataan tersebut tidak dapat digeneralisasi karena banyak ASN yang tetap menjalankan tugas dan memberikan pelayanan kepada masyarakat secara profesional.
Pemerintah daerah juga mengakui masih terdapat oknum ASN yang memiliki disiplin rendah. Namun, jumlahnya disebut sangat kecil dan telah menjadi bagian dari pembinaan kepegawaian.
Seorang ASN kementerian yang bertugas di Kalimantan Selatan mengaku keberatan apabila pernyataan tersebut dipahami sebagai gambaran seluruh aparatur sipil negara.
Menurutnya, banyak ASN yang setiap hari menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab, baik memberikan pelayanan publik maupun bekerja di lapangan dengan berbagai tantangan.
"Kalau ucapan itu diarahkan kepada seluruh ASN, menurut saya terlalu melukai hati. Banyak ASN yang setiap hari bekerja, ada yang menempuh perjalanan jauh, bertugas di lapangan, sampai melayani masyarakat dengan berbagai karakter dan tuntutan," ujarnya.
Ia menilai kritik terhadap birokrasi sebaiknya disampaikan secara proporsional berdasarkan kondisi yang ada.
"Kalau kata-kata itu sepertinya tidak cocok diarahkan oleh seorang Ketua Komisi II DPR RI," tambahnya.
Menanggapi polemik tersebut, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kabupaten Banjar, Nashrullah, mengatakan pemerintah tidak menutup mata terhadap masih adanya ASN yang memiliki disiplin dan etos kerja rendah.
Namun, menurutnya, jumlah ASN dengan karakter seperti itu sangat kecil.
"Pada dasarnya kita tidak memungkiri ada ASN yang punya mental seperti itu. Tapi kalau dipersentasekan mungkin tidak sampai lima persen. Itu pun sudah dalam pembinaan. Bahkan kalau sudah tidak bisa dibina lagi, akan masuk tahapan hukuman disiplin," katanya melalui pesan WhatsApp.
Nashrullah menilai yang menjadi persoalan adalah munculnya kesan seolah-olah seluruh ASN memiliki pola kerja yang sama.
"Yang kita sayangkan adalah menggeneralisasi seolah-olah semua ASN seperti itu. Padahal banyak ASN yang bekerja dengan baik dan penuh tanggung jawab," ujarnya.
Ia menjelaskan sistem manajemen ASN saat ini telah mengalami perubahan signifikan. Penilaian kinerja pegawai dilakukan melalui aplikasi e-Kinerja yang terintegrasi dengan Badan Kepegawaian Negara (BKN).
Selain itu, pengembangan karier ASN kini mengacu pada Sistem Informasi Manajemen Talenta (SIMATA) sehingga kompetensi menjadi salah satu faktor utama dalam promosi jabatan.
"Dengan SIMATA, kompetensi ASN sangat berpengaruh terhadap kariernya. Jadi sistem sekarang sudah jauh lebih objektif dalam menilai kinerja pegawai," jelasnya.
Menurut Nashrullah, gambaran ASN yang hanya datang untuk mengisi absensi kemudian meninggalkan kantor lebih banyak terjadi pada masa lalu. Seiring reformasi birokrasi dan digitalisasi sistem kepegawaian, pola kerja tersebut dinilai semakin jarang ditemukan.
"Apa yang sedang viral itu mungkin gambaran ASN masa lalu. Kalau sekarang rasanya sudah sangat jarang kita temui hal-hal seperti itu," pungkasnya.
Penulis: M Faidurrahman
