![]() |
| ILUSTRASI: Buku Islam ala Prabowo: Cara Prabowo Mengamalkan Ajaran Islam - Foto Dok Istimewa |
HABARMERDEKA.COM, JAKARTA - Nama ulama muda Muhammad Abdurrahman Kautsar atau Gus Kautsar tercantum dalam buku Islam ala Prabowo: Cara Prabowo Mengamalkan Ajaran Islam. Namun, pihak keluarga mempertanyakan pencantuman nama tersebut karena Gus Kautsar disebut tidak pernah menulis naskah maupun memberikan materi khusus untuk buku itu.
Keberatan tersebut disampaikan istri Gus Kautsar, Ning Jazil, melalui kolom komentar akun Instagram @kabarmahasiswa.id.
Ning Jazil mengaku terkejut ketika melihat nama suaminya tercantum dalam daftar isi buku yang memuat bagian berjudul “Dukungan Pesantren untuk Prabowo”.
Ia menegaskan, Gus Kautsar tidak pernah mengetahui bahwa percakapan yang pernah dilakukan dengan pihak penyusun buku akan digunakan sebagai bagian dari publikasi tersebut.
“Kenapa bisa ada nama suami saya? Padahal Gus Kautsar tidak pernah menulis itu, kok bisa penulis tidak izin dulu kalau mau menyertakan nama suami saya di buku itu?” tulis Ning Jazil.
Menurutnya, pertemuan dengan pihak yang kemudian dikaitkan dengan penyusunan buku terjadi sekitar awal 2024. Saat itu, orang tersebut datang ke rumah Gus Kautsar bersama istri dan anaknya.
Ning Jazil mengatakan pertemuan berlangsung dalam suasana kekeluargaan dan tidak disampaikan bahwa percakapan tersebut akan dijadikan materi sebuah buku.
“Saya ingat orang itu datang ke rumah bersama anak dan istrinya, kami sambut layaknya tamu yang lain. Kami benar-benar tidak tahu kalau obrolan itu akhirnya akan dimasukkan dalam buku,” ungkapnya.
Ia menilai, jika sejak awal percakapan tersebut dimaksudkan untuk menjadi bahan buku, seharusnya hal itu disampaikan secara terbuka kepada Gus Kautsar.
“Maaf, penulis harusnya terus terang saat wawancara kalau akan dibuat buku dengan judul tersebut. Kalau hanya wawancara, banyak juga wartawan yang wawancara dengan Gus Kautsar,” tambahnya.
Ning Jazil menjelaskan, percakapan saat itu lebih banyak membahas harapan terhadap pemimpin bangsa ke depan.
Menurutnya, Gus Kautsar hanya menyampaikan doa dan harapan secara umum untuk siapa pun yang nantinya memimpin Indonesia. Ia tidak mengetahui bahwa pernyataannya akan digunakan sebagai bagian dari buku Islam ala Prabowo.
“Saat itu, jawaban Gus hanya harapan-harapan terbaik untuk pemimpin, tidak paham kalau mau dimasukkan buku tersebut. Gus Kautsar hanya menyampaikan harapan dan doa sewajarnya, tidak ada niat untuk menjadi bagian bahan dari buku tersebut,” tegasnya.
Ning Jazil juga menyebut nama Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi dalam konteks serupa. Ia mengatakan TGB juga disebut tidak merasa pernah menulis atau berniat menjadi bagian dari buku tersebut.
“Sama dengan Tuan Guru Bajang, sama-sama tidak merasa menulis atau niat menjadi bagian buku tersebut,” pungkasnya.
Ning Jazil kemudian mengingatkan pentingnya keterbukaan dan etika ketika menggunakan nama atau pernyataan tokoh dalam sebuah karya, terlebih jika karya tersebut berkaitan dengan isu politik.
“Kalau mencatut nama dalam buku apalagi berbau politik, minimal pamit dulu,” tutupnya.
Sumber: Suara.com
