![]() |
| KREATIF: Sejumlah anak down syndrom memamerkan kain sasirangan karya mereka - Foto Dok Istimewa |
HABARMERDEKA.COM, KALSEL - Sebanyak 35 kain sasirangan disiapkan untuk dikerjakan anak-anak dengan down syndrome dalam pelatihan yang digelar Pusat Informasi Kegiatan Persatuan Orang Tua Anak dengan Down Syndrome (PIK POTADS) Kalimantan Selatan pada Minggu (4/10/2026) di Kantor KPKNL Banjarmasin.
Didampingi orang tua dan pendamping, para peserta belajar membuat sasirangan mulai dari tahap awal. Kegiatan ini menjadi ruang bagi mereka untuk mengasah keterampilan sekaligus mengenal salah satu kain khas Banua.
Ketua PIK POTADS Kalsel, Sigit Bayu Adhi, mengatakan pelatihan pembuatan sasirangan tersebut merupakan kegiatan keempat yang digelar pihaknya.
Menurutnya, jumlah kain yang disiapkan kali ini meningkat dibanding kegiatan sebelumnya. Jika sebelumnya 20 kain, kali ini peserta mendapat kesempatan mengerjakan 35 kain.
“Alhamdulillah hari ini kami mendapatkan anugerah luar biasa dari Tuhan. Empat kalinya kami mengadakan kegiatan pelatihan membuat kain sasirangan. Jadi, alhamdulillah anak-anak selalu semangat kalau ada kegiatan ini,” kata Sigit.
Ia mengatakan kegiatan tersebut tidak hanya bertujuan menghasilkan kain, tetapi juga memberikan pengetahuan dan pengalaman kepada anak-anak dengan down syndrome.
Sigit menilai anak-anak dengan down syndrome mampu dilatih dan dididik untuk mengembangkan kemampuan mereka, meski dalam prosesnya membutuhkan waktu dan pendampingan.
![]() |
| KREASI: Proses pembuatan kain sasirangan - Foto Dok Tim Redaksi |
“Anak-anak down syndrome pasti bisa walau terlambat,” ujarnya.
Menurut Sigit, puluhan anak dari sejumlah daerah di Kalimantan Selatan terlibat dalam rangkaian kegiatan POTADS. Peserta berasal antara lain dari Kabupaten Banjar, Kota Banjarmasin, dan Kabupaten Tanah Laut.
Ia menyebut kegiatan pengembangan kemampuan anak digelar secara rutin. Dalam setahun, terdapat dua agenda pelatihan serupa dan beberapa kegiatan lain yang menampilkan kemampuan anak-anak.
Selain keterampilan, kegiatan tersebut juga menjadi sarana membiasakan anak-anak berada di lingkungan sosial dan melatih kreativitas.
Sigit menekankan peran orang tua dan orang-orang di sekitar anak menjadi bagian penting dalam proses pengembangan bakat.
“Setiap anak bisa selama diberikan fasilitas untuk mengembangkan bakat,” katanya.
Ia juga mengajak orang tua tidak merasa malu dengan kondisi anak. Menurutnya, keterbatasan yang dimiliki bukan alasan untuk menghentikan kesempatan anak mengembangkan kemampuan.
“Jangan malu, banyak yang sama. Keterbatasan itu ada, tetapi selama ada pendampingan maka bakat anak yang keluar,” ujarnya.
Karya Anak Akan Dilelang
Karya sasirangan yang dihasilkan anak-anak POTADS selama ini tidak berhenti sebagai hasil pelatihan.
Sigit mengatakan kain yang telah dibuat akan dilelang. Hasil lelang kemudian digunakan kembali untuk mendukung kegiatan anak-anak POTADS pada kesempatan berikutnya.
Menurutnya, nilai karya tersebut bukan semata-mata ditentukan dari kain yang dihasilkan, tetapi juga karena kain dibuat langsung oleh anak-anak dengan down syndrome.
“Pembelinya bukan membeli kain, tapi membeli karena itu hasil karya anak-anak kami, nilainya lebih jadinya,” kata Sigit.
Ia berharap ke depan UMKM Kantan Sasirangan dapat terus membuka ruang bagi anak-anak POTADS untuk mengembangkan keterampilan mereka dengan pendampingan orang tua.
Jika kemampuan mereka semakin berkembang, Sigit berharap hasil karya tersebut tidak hanya dilelang, tetapi juga dapat dipasarkan lebih luas.
Potensi Jangan Berhenti di Ruang Pelatihan
Pembina PIK POTADS Kalsel, Dr. dr. Hj. Siti Wasilah, M.Si.Med, mengatakan pendampingan terhadap anak dengan down syndrome tidak cukup hanya berfokus pada pertumbuhan.
Menurutnya, perkembangan kemampuan dan kemandirian anak juga perlu terus diperhatikan, termasuk setelah mereka menyelesaikan pendidikan formal.
“Ketika orang tua mendampingi anak-anak, tentu tidak sebatas hanya pertumbuhan saja, tapi juga perkembangan,” kata Siti.
Ia mengatakan pendidikan dan pelatihan menjadi bagian penting dalam membangun kemandirian. Namun, menurutnya, masih diperlukan wadah yang lebih luas agar kemampuan anak dapat terus dikembangkan setelah menyelesaikan pendidikan.
Salah satunya melalui ruang kerja dan pemasaran yang disesuaikan dengan kemampuan serta kondisi masing-masing anak.
“Saya berharap pada suatu ketika POTADS bersama pihak-pihak terkait bisa menyiapkan wadah untuk pemasaran dan sekaligus juga tempat bekerjanya anak-anak ini, walaupun tentu dengan pengaturan pola kerja dan waktu yang diatur sedemikian rupa sesuai untuk mereka,” ujarnya.
Menurutnya, pelatihan sasirangan dapat menjadi salah satu titik awal untuk membangun ekosistem yang memungkinkan anak-anak dengan down syndrome terus berkarya setelah menyelesaikan pendidikan SMA atau SMK.
Ia berharap upaya yang selama ini dilakukan POTADS, termasuk melalui lelang hasil karya, dapat berkembang menjadi lebih banyak saluran pemasaran.
KPKNL Dorong Inklusivitas
Kepala Kantor KPKNL Banjarmasin Purwito melalui Kasi Pengelolaan Kekayaan Negara Ary Mey Rambudi mengatakan keterlibatan pihaknya dalam kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya membangun inklusivitas.
Menurut Ary Mey, pelatihan bersama PIK POTADS Kalsel menjadi salah satu bentuk lain dari penerapan lingkungan yang lebih inklusif.
Ia mengatakan KPKNL Banjarmasin sebelumnya juga memberikan kesempatan kepada sejumlah penyandang disabilitas untuk terlibat sebagai penyapa pengunjung pada kegiatan 23 Juli dalam rangka Hari Anak Nasional.
Selain itu, fasilitas di kantor KPKNL Banjarmasin disebut telah disiapkan agar lebih ramah bagi penyandang disabilitas maupun lanjut usia.
“Atas hal itu kami kemarin mendapatkan penghargaan dari Kementerian Hak Asasi Manusia (KemenHAM) Perwakilan Kalimantan Selatan,” kata Ary Mey.
Bagi PIK POTADS Kalsel, pelatihan sasirangan bukan sekadar kegiatan membuat kain.
Di balik setiap kain yang dikerjakan, terdapat proses belajar, pendampingan, interaksi sosial, dan upaya membuka ruang agar anak-anak dengan down syndrome dapat menunjukkan kemampuan mereka.
Penulis: M Faidurrahman

