Waduk Riam Kanan Surut 2,485 Meter, Cadangan Air Dihemat hingga Desember

DEBIT AIR: Waduk Riam Kanan terus mengalami penyusutan debit air selama musim kemarau 2026 - Foto Dok Pariwisata Indonesia

HABARMERDEKA.COM, KALSEL - Cadangan air Waduk Riam Kanan di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, terus menyusut selama musim kemarau 2026. Hingga 12 Oktober, tinggi muka air (TMA) waduk turun 2,485 meter dibandingkan kondisi pada 6 Juli, sementara pengelola tidak mencatat adanya aliran air masuk sejak 20 Juli 2026.

Kondisi tersebut mendorong pengelola Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Riam Kanan menghemat penggunaan air dengan mengoperasikan satu unit turbin pada beban minimum. Langkah ini dilakukan untuk menjaga keberlangsungan pembangkit sekaligus mempertahankan ketersediaan air, terutama bagi kebutuhan sistem penyediaan air minum (SPAM).

Berdasarkan data pemantauan pengelola pada Senin (12/10/2026), elevasi Waduk Riam Kanan berada di angka 54,915 meter di atas permukaan laut (mdpl). Angka tersebut lebih rendah dibandingkan elevasi 57,400 mdpl yang tercatat pada 6 Juli 2026.

Manajer Unit Pembangkitan (UP) Tenaga Air Gunung Bamega, Reza Permana, mengatakan penurunan muka air selama Juli hingga Oktober berkisar 2,5–3 sentimeter per hari.

“Dari Juli sampai Oktober mengalami penurunan. Per hari berkisar 2,5–3 sentimeter,” ujarnya.


Menurut Reza, elevasi pada 12 Oktober menjadi yang terendah selama musim kemarau tahun ini berdasarkan catatan pemantauan pengelola. Penyusutan diperkirakan berlanjut apabila hujan belum turun dan belum ada tambahan air yang masuk ke waduk.

“Selama hujan belum turun, maka penyusutan TMA akan terus terjadi,” katanya.

Tidak Ada Aliran Air Masuk Sejak 20 Juli

Salah satu kondisi yang menjadi perhatian pengelola adalah tidak adanya aliran air masuk atau inflow yang tercatat sejak 20 Juli 2026. Di sisi lain, debit air keluar atau outflow tetap dipertahankan pada kisaran 13 meter kubik per detik.

“Sejak 20 Juli 2026 tidak ada inflow masuk yang tercatat kami. Adapun outflow kita jaga di kisaran 13 meter kubik per detik,” jelas Reza.

Data pemantauan yang merujuk pada Balai Wilayah Sungai (BWS) menunjukkan elevasi waduk berada pada 55,020 mdpl pada 8 Oktober 2026. Empat hari kemudian, ketinggiannya tercatat 54,915 mdpl atau turun 10,5 sentimeter.

Penurunan muka air di tengah minimnya pasokan masuk membuat pengaturan cadangan menjadi penting. Pengelola perlu mempertimbangkan kebutuhan operasional pembangkit dan ketersediaan air untuk keperluan lainnya.

PLTA Beroperasi 24 Jam dengan Satu Turbin

Untuk menghemat cadangan air, pengelola mengurangi jumlah unit turbin yang beroperasi menjadi satu unit dengan beban minimum. Reza mengatakan langkah tersebut mulai diterapkan setelah pengelola memperoleh informasi mengenai potensi kemarau signifikan akibat El Nino.

“Tahun ini, ketika mendapatkan informasi bahwa El Nino signifikan, kami mulai melakukan penghematan dengan mengurangi jumlah unit operasi menjadi satu unit dengan beban minimum,” ujarnya.

Meski jumlah turbin yang beroperasi dikurangi, PLTA Riam Kanan tetap dijalankan selama 24 jam.

Pengelola memproyeksikan muka air waduk dapat mencapai level minimum pada akhir November 2026. Karena itu, penghematan diupayakan agar ketersediaan air dapat dipertahankan hingga awal Desember, terutama untuk kebutuhan SPAM.

“Diupayakan sampai dengan awal Desember agar keberlangsungan pasokan air terutama untuk SPAM tetap terpenuhi,” ungkap Reza.

Proyeksi tersebut menunjukkan pentingnya pemantauan kondisi waduk selama kemarau masih berlangsung. Namun, kepastian ketersediaan air hingga awal Desember tetap bergantung pada perkembangan kondisi hidrologi dan pengelolaan cadangan air.

Di tengah penyusutan muka air Waduk Riam Kanan, informasi mengenai elevasi terkini, pasokan air masuk, serta pengaturan penggunaan air menjadi penting bagi masyarakat dan pihak yang bergantung pada sumber air tersebut. Konfirmasi dari pengelola SPAM juga diperlukan untuk mengetahui kondisi pasokan air bersih bagi pelanggan di wilayah layanan terkait. (MFR)

Lebih baru Lebih lama