![]() |
| MATA UANG: Ilustrasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS - Foto Dok Istimewa |
HABARMERDEKA.COM, JAKARTA – Nilai tukar rupiah berhasil menguat pada penutupan perdagangan Jumat (12/6/2026), seiring meningkatnya optimisme pelaku pasar terhadap prospek ekonomi Indonesia dan membaiknya sentimen global.
Mata uang Garuda ditutup naik 128 poin atau sekitar 0,71 persen ke level Rp17.860 per dolar Amerika Serikat (AS).
Salah satu faktor yang menopang penguatan rupiah berasal dari revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh Bank Dunia. Lembaga internasional tersebut menaikkan perkiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 menjadi 5 persen, lebih tinggi dibandingkan proyeksi sebelumnya sebesar 4,7 persen.
Kenaikan proyeksi tersebut didorong oleh kinerja ekonomi nasional yang dinilai lebih kuat dari perkiraan pada awal tahun. Produk domestik bruto (PDB) Indonesia tercatat tumbuh 5,6 persen secara tahunan pada kuartal pertama 2026.
Pertumbuhan tersebut ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang tetap solid, percepatan belanja pemerintah, serta peningkatan investasi yang berlanjut sepanjang awal tahun.
Momentum Ramadan dan Hari Raya Idulfitri, percepatan pencairan tunjangan hari raya (THR) aparatur sipil negara, hingga pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) turut mendukung aktivitas konsumsi masyarakat.
Selain faktor domestik, pelaku pasar juga mencermati perkembangan geopolitik di Timur Tengah yang dinilai lebih kondusif dibandingkan beberapa waktu sebelumnya.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan pasar merespons positif perkembangan komunikasi antara Amerika Serikat dan Iran yang membuka peluang tercapainya kesepakatan terkait keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
“Selat tersebut biasanya dilalui seperlima dari pengiriman minyak dan gas alam cair global, dan blokade Teheran selama berbulan-bulan telah membuat harga energi tetap tinggi,” ujar Ibrahim.
Meredanya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global memberikan ruang bagi investor untuk kembali masuk ke aset negara berkembang, termasuk Indonesia.
Meski demikian, pasar masih mewaspadai arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Data harga produsen AS yang dirilis terbaru menunjukkan tekanan inflasi masih relatif tinggi.
Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve masih berpeluang menaikkan suku bunga acuan pada akhir tahun. Saat ini pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga AS pada Desember berada di kisaran 60 persen.
Dari sisi investasi, Indonesia juga mencatat pertumbuhan pembentukan modal tetap bruto sebesar 6 persen pada kuartal pertama 2026. Capaian tersebut menunjukkan aktivitas dunia usaha masih terjaga dan menjadi salah satu faktor pendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
Untuk perdagangan selanjutnya, Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah masih akan dipengaruhi dinamika global dan data ekonomi internasional. Namun mata uang domestik dinilai masih memiliki peluang melanjutkan penguatan.
Ia memproyeksikan rupiah bergerak dalam rentang Rp17.860 hingga Rp18.910 per dolar AS pada perdagangan harian. Adapun dalam sepekan, rupiah diperkirakan berada pada kisaran Rp17.780 hingga Rp18.040 per dolar AS.
Sumber: Detik.com
