IHSG Anjlok Lebih Dalam dari Masa Covid, Rp922 Triliun Menguap

TERJUN BEBAS: Ilustrasi Indeks Harga Saham Gabungan mengalami pelemahan tajam - Foto Dok Istimewa

HABARMERDEKA.COM, JAKARTA – Tekanan di pasar modal Indonesia kian terasa setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat pelemahan tajam yang bahkan disebut lebih dalam dibandingkan masa pandemi Covid-19. Bersamaan dengan koreksi indeks, nilai kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) juga menyusut hingga Rp922 triliun.

Pada penutupan perdagangan Jumat (5/6/2026), IHSG turun 245,02 poin atau 4,20 persen ke level 5.594,77. Jika dihitung dari posisi tertingginya, indeks telah terkoreksi sekitar 38 persen, memperlihatkan tekanan yang belum mereda di pasar saham domestik.

Kondisi tersebut terjadi di tengah kombinasi berbagai faktor, mulai dari derasnya arus keluar dana asing, pelemahan nilai tukar rupiah, hingga meningkatnya perhatian lembaga pemeringkat internasional terhadap kondisi fiskal Indonesia.

Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Azharys Hardian, menilai pelemahan yang terjadi saat ini tidak dapat dijelaskan oleh satu faktor tunggal.

Menurutnya, tekanan terhadap IHSG merupakan hasil dari berbagai persoalan yang saling berkaitan dan berlangsung dalam waktu yang tidak singkat.

Dalam 12 bulan terakhir, investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih dengan nilai mencapai Rp78 triliun. Fenomena tersebut dinilai menjadi indikator menurunnya kepercayaan investor terhadap prospek pasar keuangan Indonesia.

Selain itu, keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang memberlakukan interim freeze pada Februari 2026 turut menjadi perhatian pelaku pasar. Kebijakan tersebut menyoroti isu transparansi dan tata kelola pasar modal Indonesia di mata investor global.

Di saat bersamaan, lembaga pemeringkat internasional seperti Moody’s, Fitch, dan S&P juga disebut tengah mencermati perkembangan fiskal Indonesia. Tekanan semakin besar setelah konflik geopolitik global mendorong kenaikan harga minyak dunia yang berpotensi membebani anggaran negara.

Nilai tukar rupiah pun ikut tertekan. Sejak awal tahun, mata uang Garuda tercatat melemah sekitar 8 persen terhadap dolar Amerika Serikat.

Azharys menjelaskan bahwa kondisi pasar saat ini berbeda dengan situasi ketika pandemi Covid-19 melanda pada 2020.

Kala itu, pelemahan ekonomi dipicu faktor eksternal berupa pembatasan aktivitas akibat krisis kesehatan global. Ketika vaksin mulai tersedia dan mobilitas masyarakat kembali normal, pasar memiliki arah pemulihan yang jelas.

“Begitu solusi ditemukan dalam bentuk vaksin dan pelonggaran restriksi, pasar langsung melakukan rebound dan mencapai pemulihan penuh pada Januari 2021,” ujar Azharys.

Berbeda dengan pandemi, tekanan yang terjadi saat ini dinilai lebih kompleks karena bersumber dari persoalan yang bersifat struktural. Mulai dari ketidakpastian kebijakan, tekanan fiskal yang berkelanjutan, pelemahan rupiah, hingga berkurangnya kepercayaan investor asing.

Pasar juga disebut kesulitan menemukan katalis pemulihan yang dapat memberikan kepastian mengenai arah perbaikan ekonomi dalam jangka pendek.

Menurut Azharys, krisis kepercayaan yang terlihat di pasar saat ini pada dasarnya merupakan refleksi dari persoalan fundamental yang belum sepenuhnya terselesaikan.

“Dengan demikian, krisis kepercayaan yang terlihat di permukaan sesungguhnya adalah cerminan dari permasalahan fundamental yang belum terselesaikan,” katanya.

Ia menilai pelemahan rupiah dan ketidakpastian regulasi menjadi dua faktor yang paling dominan menekan pasar. Kedua faktor tersebut saling memengaruhi dan memperbesar persepsi risiko investor terhadap aset-aset Indonesia.

Ketika investor asing mengurangi eksposur investasinya, tekanan terhadap rupiah meningkat. Pelemahan mata uang kemudian memicu sentimen negatif baru yang berujung pada aksi jual lanjutan di pasar saham.

Meski demikian, Azharys menegaskan kondisi saat ini belum dapat disebut sebagai krisis pasar modal. Namun, sinyal yang diberikan pasar perlu mendapat perhatian serius karena IHSG sering kali menjadi indikator awal terhadap ekspektasi pelaku ekonomi.

“Koreksi mendalam ini adalah komunikasi pasar yang tidak boleh diabaikan,” ujarnya.

Menurut dia, langkah yang paling dibutuhkan saat ini adalah kepastian kebijakan dari pemerintah. Selain menjaga disiplin fiskal, pemerintah juga perlu memberikan sinyal yang jelas terkait stabilitas rupiah dan strategi menghadapi derasnya arus keluar modal asing.

Kepastian tersebut dinilai dapat membantu memulihkan kepercayaan investor dan menjadi salah satu faktor penting untuk meredakan tekanan yang saat ini membayangi pasar keuangan Indonesia.

Sumber: Kompas.com

Lebih baru Lebih lama