![]() |
| MATA UANG: Nilai tukar rupiah tembus Rp18.000 per dolar AS - Foto Dok Istimewa |
HABARMERDEKA.COM, JAKARTA – Pelemahan nilai tukar rupiah kembali menjadi perhatian setelah mata uang Indonesia menyentuh level terendah sepanjang sejarah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pada Kamis (4/6/2026), kurs rupiah tercatat berada di kisaran Rp18.038 per dolar AS setelah sebelumnya sempat menyentuh Rp18.044 per dolar AS.
Meski pergerakan kurs sering dianggap sebagai isu pasar keuangan, dampaknya sebenarnya dapat menjangkau kehidupan sehari-hari masyarakat. Mulai dari biaya energi, harga pangan, hingga bahan baku industri berpotensi ikut terdampak ketika nilai tukar rupiah terus melemah.
Kajian terbaru Center of Macroeconomics and Finance (MacFin) Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah tidak hanya menjadi tantangan bagi sektor moneter, tetapi juga dapat memengaruhi daya beli masyarakat.
Dalam laporannya yang dipublikasikan pada 3 Juni 2026, INDEF mencatat Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen sebagai langkah menjaga stabilitas nilai tukar dan mengendalikan tekanan ekonomi yang muncul akibat penguatan dolar AS.
Energi Jadi Sektor Paling Rentan
Menurut INDEF, sektor energi menjadi salah satu yang paling cepat merasakan dampak pelemahan rupiah. Hal ini karena sebagian besar transaksi energi global, termasuk minyak mentah dan bahan bakar, menggunakan dolar AS.
Indonesia masih mengandalkan impor sejumlah komoditas energi strategis. Pada 2025, impor produk minyak olahan mencapai sekitar 13 miliar dolar AS, sementara impor minyak mentah mencapai 9,3 miliar dolar AS.
Ketika nilai tukar rupiah melemah, biaya pembelian energi dari luar negeri otomatis meningkat. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi biaya transportasi, distribusi barang, hingga ongkos produksi berbagai sektor ekonomi.
"Karena sebagian besar perdagangan global menggunakan dolar AS, kenaikan dolar membuat komoditas impor strategis menjadi lebih mahal dalam rupiah," tulis INDEF dalam laporannya.
Harga Pangan Berisiko Naik
Selain energi, sektor pangan juga berpotensi mengalami tekanan. Indonesia masih mengimpor sejumlah komoditas penting dari Amerika Serikat, seperti kedelai, gandum, LPG, serta bahan baku pakan ternak.
Kedelai menjadi bahan utama produksi tahu dan tempe yang dikonsumsi masyarakat setiap hari. Sementara gandum digunakan dalam industri mi instan, roti, biskuit, dan berbagai produk makanan lainnya.
Di sisi lain, bahan pakan ternak yang masih bergantung pada impor dapat meningkatkan biaya produksi peternakan apabila kurs rupiah terus melemah.
INDEF menilai kenaikan biaya impor pada komoditas tersebut berpotensi memicu kenaikan harga di tingkat konsumen apabila tekanan nilai tukar berlangsung dalam waktu lama.
Pelemahan Rupiah Tak Otomatis Untungkan Ekspor
Selama ini berkembang anggapan bahwa rupiah yang melemah akan menguntungkan eksportir karena harga produk Indonesia menjadi lebih murah di pasar internasional.
Namun, hasil kajian INDEF menunjukkan kondisi tersebut tidak selalu terjadi. Analisis terhadap data perdagangan Indonesia sejak 2015 hingga Maret 2026 memperlihatkan bahwa hubungan antara kurs rupiah dan peningkatan ekspor tidak cukup kuat.
Menurut lembaga tersebut, performa ekspor lebih banyak dipengaruhi faktor lain seperti harga komoditas dunia, permintaan global, kandungan bahan impor dalam produksi, hingga kontrak perdagangan internasional.
"Argumen bahwa dolar yang lebih kuat membantu ekspor perlu dilengkapi dengan faktor lain seperti harga komoditas, permintaan global, kandungan impor dalam produksi, dan struktur kontrak perdagangan," tulis INDEF.
Tekanan Tambahan bagi Daya Beli
Kajian tersebut juga menyoroti kondisi konsumsi rumah tangga yang masih didominasi pengeluaran untuk makanan dan minuman. Pada triwulan pertama 2026, porsi belanja pangan mencapai 36,03 persen dari total konsumsi rumah tangga.
Besarnya porsi pengeluaran untuk kebutuhan pokok menunjukkan bahwa ruang belanja masyarakat masih relatif terbatas. Dalam kondisi seperti itu, kenaikan harga pangan akibat mahalnya biaya impor dapat semakin membebani rumah tangga.
INDEF juga mencatat pemulihan pasar tenaga kerja belum sepenuhnya kuat. Meskipun jumlah pengangguran menurun, peningkatan pekerja informal masih lebih tinggi dibanding pekerja formal.
Selain itu, pertumbuhan upah dinilai belum sepenuhnya mampu mengimbangi tekanan inflasi.
"Peningkatan inflasi menggerus daya beli dan kemampuan masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan hidup semakin tertekan," jelas INDEF.
Risiko bagi Perekonomian
INDEF memperkirakan kombinasi pelemahan rupiah dan kenaikan harga minyak dunia dapat memperbesar beban impor Indonesia.
Berdasarkan simulasi yang dilakukan, setiap kenaikan harga minyak mentah sebesar 1 dolar AS per barel berpotensi menambah tagihan impor sekitar Rp6,69 triliun. Sementara pelemahan kurs sebesar Rp250 per dolar AS dapat meningkatkan beban impor minyak hingga sekitar Rp7,10 triliun.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa pergerakan nilai tukar tidak hanya menjadi persoalan pasar keuangan, tetapi juga memiliki konsekuensi langsung terhadap biaya energi, harga pangan, inflasi, dan daya beli masyarakat.
Sumber: Kompas.com
