Kabut Asap Karhutla Menebal, Disdik Banjarbaru Atur Jam Belajar

KABUT ASAP: Sejumlah orang tua siswa mengantar anak ke sekolah di tengah tebalnya kabut asap - Foto Dok Tim Redaksi

HABARMERDEKA.COM, KALSEL - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai mengganggu aktivitas pendidikan di Kota Banjarbaru. Sejumlah kegiatan sekolah yang seharusnya digelar di luar ruangan ditunda, sementara Dinas Pendidikan Kota Banjarbaru memberlakukan penyesuaian jam pembelajaran bagi sekolah yang terdampak.

Kondisi tersebut dirasakan di salah satu sekolah dasar di kawasan Landasan Ulin, Rabu (19/8/2026). Kabut asap yang semakin tebal membuat pihak sekolah memilih mengalihkan kegiatan yang memungkinkan ke dalam kelas untuk mengurangi paparan asap kepada siswa.

Kepala SDN 1 Syamsudin Noor, Hasni Rusita, mengatakan kondisi asap yang cukup tebal baru dirasakan pada hari tersebut. Padahal, sekolah tengah menggelar berbagai perlombaan dalam rangka HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia serta kegiatan yang berkaitan dengan hasil pembelajaran siswa.

Sejumlah lomba yang semestinya berlangsung di luar ruangan akhirnya ditunda hingga kondisi asap membaik.

“Karena suasananya seperti ini, jadi kami putuskan tunda dulu, sampai asapnya benar-benar tidak ada lagi,” ujar Hasni.


Meski demikian, kegiatan yang dapat dilakukan di dalam ruangan tetap berjalan. Di antaranya storytelling dan mewarnai yang dilaksanakan di kelas.

Hingga saat ini, pihak sekolah belum menerima laporan adanya siswa yang mengalami gangguan kesehatan serius akibat kabut asap. Namun, seorang guru disebut mengalami sesak napas dan memiliki riwayat asma.

Sekolah pun mengingatkan siswa dan orang tua untuk lebih memperhatikan kesehatan selama kondisi kabut asap berlangsung. Siswa diminta menggunakan masker ketika berada di luar kelas maupun keluar rumah, memperbanyak minum air putih dan mengonsumsi makanan sehat.

“Yang penting itu jaga kesehatannya, kalau keluar kelas gunakan maskernya, ataupun keluar rumah gunakan maskernya juga, banyak-banyak minum air putih dan makanan yang sehat juga,” kata Hasni.

Orang Tua Khawatir Kabut Asap Ganggu Aktivitas Anak

Salah satu orang tua siswa, Dadan Waja, mengatakan kondisi asap dalam beberapa hari terakhir mulai terasa mengganggu.

Menurutnya, dampaknya bukan hanya dirasakan anak-anak yang mengikuti kegiatan sekolah, tetapi juga masyarakat yang beraktivitas di jalan karena jarak pandang ikut menurun.

“Memang ini sudah mulai ada rasa perih, terus ada rasa berbau dengan asap-asap bakaran, kebakaran,” ujarnya.

Ia bahkan mengaku kendaraan dengan jarak sekitar 5 hingga 10 meter di depan terkadang sulit terlihat jelas.

Ia berharap penanganan karhutla segera dilakukan sehingga kondisi asap tidak berlangsung berkepanjangan dan semakin mengganggu aktivitas sekolah maupun kesehatan anak-anak.

Disdik Banjarbaru Sesuaikan Jam Pembelajaran

Respons terhadap kondisi tersebut juga dituangkan Dinas Pendidikan Kota Banjarbaru melalui Surat Edaran Nomor 400.3.5/1738/P.SMP/Disdik tentang Proses Pembelajaran pada Saat Terjadi Kebakaran Hutan dan Lahan Lingkup Dinas Pendidikan Kota Banjarbaru Tahun 2026.

Surat edaran tersebut memberikan ruang bagi satuan pendidikan yang terdampak untuk memulai pembelajaran pukul 09.00 WITA secara situasional.

Pengaturan waktu berakhirnya aktivitas sekolah juga disesuaikan. Untuk jenjang PAUD berakhir pukul 11.30 WITA, SD pukul 14.00 WITA, sedangkan SMP pukul 15.00 WITA.

Dinas Pendidikan meminta kegiatan pembelajaran yang biasanya dilakukan di luar ruangan disesuaikan dengan tingkat kepekatan kabut asap. Penyesuaian tersebut dilakukan agar kondisi udara tidak sampai mengganggu kesehatan warga sekolah maupun proses pembelajaran.

Kepala sekolah juga dapat melakukan koordinasi dengan Dinas Kesehatan melalui Puskesmas, BPBD, camat dan lurah sebagai langkah awal mengantisipasi dampak kabut asap.

Sementara bagi pendidik dan tenaga kependidikan, tugas tetap dilaksanakan sesuai jam kerja yang telah ditetapkan. Jika terjadi keterlambatan akibat kondisi kabut asap, sekolah dapat mengajukan pembelaan dengan melampirkan foto yang dilengkapi waktu dan GPS.

Kebijakan tersebut menunjukkan proses pembelajaran tetap diupayakan berjalan, namun pelaksanaannya disesuaikan dengan kondisi kabut asap agar aktivitas pendidikan tidak mengabaikan kesehatan siswa dan warga sekolah.

Penulis: M Faidurrahman 

Lebih baru Lebih lama